Header Ads


Menolak lupa, 22 Tahun Tragedi Semanggi Riwayat Mu Kini


JAKARTA,(JOGJA BERKABAR) - Masa peralihan order baru (orba) menuju reformasi telah berjalan selama 22 tahun. Bila kita mengenang masa di mana awal reformasi bergulir tidak lah semudah membalikkan telapak tangan, reformasi terlahir dari sebuah kesadaran atas hak hidup yang lebih layak dengan pengorbanan darah dan air mata. Gerakan perubahan yang di motori mahasiswa beserta rakyat ini berupaya sekuat tenaga dalam menumbangkan sebuah rezim otoriterian selama 32 tahun berkuasa, H.M Suharto yang telah menjabat sebagai presiden Indonesia selama 32 tahun di anggap sebagai pemicu gerakan perubahan reformasi.

Beberapa mahasiswa yang meneriakkan seruan pembebasan di balas dengan berondongan timah panas dari moncong-moncong senjata yang di peroleh dari pajak rakyat. Sejumlah mahasiswa gugur sebagai martir reformasi tak hanya di Universitas Trisakti, puncak perlawanan mahasiswa terhadap pemerintah tirani yang mengunakan angkatan bersenjatanya saat itu pecah pada tanggal 12-13 November 1998, yang saat ini di kenang dengan tragedi Semanggi 1 dan 2.

Reformasi yang di teriakan mahasiswa telah genap 22 tahun, beberapa pucuk pimpinan perintahan berganti, namun apa kah reformasi yang telah 22 tahun ini sudah berjalan dengan cita-cita awal saat reformasi di teriakkan 22 tahun silam.

Mantan aktivis 98 sekaligus sekertaris Jendral (sekjen) Gerakan Puan Maharani Nusantara (GPMN) Dadi Palgunadi yang saat ini memilih jalan hidupnya sebagai pengusaha advertising di Bandung mengutarakan bahwa reformasi saat ini di tumpangi penumpang gelap, dan sudah di bajak.


"Bicara reformasi yang saat ini genap berusia 22 tahun, buat kami masih meninggalkan pekerjaan rumah yang harus di selesaikan oleh pemerintahan yang berkuasa saat ini, tragedi Semanggi 1 dan 2 adalah tragedi kemanusiaan, dan juga bicara pelanggaran HAM berat di masa lampau yang harus kita selesaikan, bila kita setiap bulan Oktober kita membicarakan G30S/PKI, jaraknya sudah hampir satu abad kenapa kita yang baru mengalami tragedi Semanggi 22 tahun kita jadi amnesia semua, tidak bisa kita bicarakan dan kita selesaikan," ungkap Dadi Palgunadi saat di hubungi melalui sambungan WhatsApp messenger, Jumat (13/10).

Walaupun saat ini Dadi Palgunadi sebagai sekjen GPMN namun bicara reformasi dan tragedi Semanggi 1 dan 2 tatap konsisten dengan semangat yang menyala.

"Buat saya kita semua juga harus konsisten, bukan mentang-mentang saya sekjen Gerakan Puan Maharani Nusantara terus saya diam, ngak bisa mas. Kawan-kawan saya banyak yang pada saat itu gugur dalam meneriakkan keadilan, contoh nya saja Sigit Prastyo yang di tewas saat kejadian Semanggi, dan kalo G30S kita punya pahlawan revolusi kenapa Sigit Prastyo tidak di beri gelar pahlawan reformasi. Jangan kan di beri gelar reformasi, di usut siapa pelaku dan dalangnya kita tahu sampai saat ini masih sumir kabar beritanya," terang Dadi Palgunadi dengan nada semangat.

Tidak jelasnya penangan beberapa pelanggaran HAM berat termasuk Tragedi Semanggi di anggap dadi sebagai tumpulnya penegakan hukum di Indonesia, ia berharap agar pemerintahan Joko Widodo serius dalam mengungkap dalang peristiwa itu, ia pun juga meminta kepada kaum milenial mampu belajar dari sejarah yang telah di torehkan dirinya dan kawan-kawan sesama aktivis 98.

(WAP)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.