Header Ads


Menjelang Pilkada Bantul 2020 Muhammadiyah Dan Nahdlatul ‘Ulama Menyerukan Kerukunan Dan Kebaikan

BANTUL, (JOGJA BERKABAR) - DUA organisasi kemasyarakatan (ormas)  dan keagamaan Islam terbesar di kabupaten Bantul, yakni Muhammadiyah dan Nahdlatul ‘Ulama (NU), menjalin ukhuwah islamiyah di tengah hangatnya persiapan ajang pemilihan kepala daerah (pilkada) di Kabupaten Bantul.

Muhammadiyah dan NU bersepakat untuk menyeru kepada umat Islam dan segenap masyarakat Kabupaten Bantul bahwa pilkada ini merupakan ajang kontestasi kepala daerah yang sudah dilaksanakan secara periodik berkali-kali, sehingga tidak perlu disikapi secara berlebihan. Orang nomor satu di lingkungan NU Bantul,  K.H. Damanhuri, menyatakan bahwa yang “punya gawe” pilkada ini adalah kita semua, seluruh masyarakat Bantul. Para calon diusung oleh partai politik, bukan diusung oleh ormas seperti NU dan Muhammadiyah. Sebagai warga negara, K.H. Damanhuri mengajak seluruh komponen masyarakat untuk menyukseskan  perhelatan pilkada ini dengan memilih calon sesuai dengan prinsip kebebasan dan kerahasiaan menurut pertimbangan masing-masing rakyat yang berhak pilih.

Sedangkan Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Bantul, Ustadz Drs. H. Sahari yang tampak akrab berdampingan berdampingan dengan K.H. Damanhuri menambahkan bahwa Muhammadiyah dan NU itu gerakan dakwah amar makruf nahi munkar, bukan organisasi politik praktis, sehingga kami bersamamerasa berkewajiban untuk menjaga ukhuwah islamiyah sebagai sesama lembaga dakwah. Sebagai lembaga dakwah, kami tidak boleh berpihak secara politik hingga terkesan terpecah-belah sebab hal itu dapat membingungkan umat. Oleh karena itu, K.H. Sahari menyerukan kepada ummat dan masyarakat Bantul untuk tetap menjalin silaturahim di antara sesama umat Islam, tidak perlu terprovokasi oleh isu-isu yang dapat memecah-belah umat dan merusak nilai silaturahim sesama umat Islam. Gunakan hak pilih sesuai yang diyakini dan jauhi politik transaksional dan politik uang yang dapat merusak nilai-nilai demokrasi.



Dalam kesempatan ini, K.H. Saebani, M.A., Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Bantul pengganti   Allahuyarham K.H. Kholiq Sifa, menyampaikan tiga pesan penting, yakni:

Pertama, NU dan Muhammadiyah  adalah ormas yang sudah sangat berpengalaman dan terbiasa menghadapi ajang pesta demokrasi seperti pilkada ini. Oleh karena itu, MUI mempertemukan dua ormas besar ini untuk menjalin ukhuwah dengan maksud menunjukkan kepada umat dan masyarakat bahwa Muhammadiyah dan NU tetap rukun bersatu.

Kedua, ajang pilkada ini adalah peristiwa politik yang merupakan ajang kompetisi para calon yang diusung oleh partai-partai politik, sehingga harus disikapi biasa-biasa saja dan jangan sampai menimbulkan perpecahan di antara ummat Islam.  

Ketiga, MUI bersepakat dengan NU dan Muhammadiyah untuk menyerukan gerakan moral anti politik uang supaya menghasilkan pemimpin yang terbaik.


Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.