Header Ads


Kuliner Unik Ndas Borok Asal Temanggung

TEMANGGUNG, (JB) - Jangan salah mengerti soal 'Ndas Borok'. Sepintas nama ini berkesan menyeramkan karena mengandung pengertian adanya borok atau penyakit di kepala. Ndas Borok di Temanggung, Jawa Tengah adalah makanan khas dengan cita rasa gurih manis, terbuat dari singkong, parutan kelapa dengan taburan gula aren. Bentuknya yang mirip borok di kepala membuatnya lebih populer dengan sebutan Ndas Borok.

Salah seorang produsen dan penjual Ndas Borok adalah Saryanto (42) warga Desa Pendowo, Kecamatan Kranggan, Temanggung. Ia membuat Ndas Borok sejak tiga tahun terakhir lantaran terinspirasi kenangan masa kecil dari makanan tradisional tersebut. Dimulai sekitar umur 10 tahun, pria yang akrab disapa Pak Itok ini kerap diajak orang tuanya pergi berdagang beras ke daerah Parakan. 


"Setiap ke Parakan, saya selalu dibelikan makanan Ndas Borok. Saya amat menyukainya. Meski sudah tidak menjual beras di Parakan lagi, namun kenangan makan Ndas Borok semasa kecil terus teringat hingga sekarang. Karena itu saya memproduksi Ndas Borok," kenang Pak Itok, saat ditemui Kamis (6/8/2020), di Temanggung.


Terkait Ndas Borok ini juga ada mitos yang melingkupi, cerita dari leluhur dan diwariskan turun temurun. Yakni mengenai larangan membawa bekal nasi jika hendak naik, mendaki ke Gunung Sumbing. Yang disarankan jika naik gunung adalah membawa bekal singkong, gula, dan kelapa . 


Penjelasan mengenai mitos ini, kalau bekal nasi yang dibawa, maka akan mudah terasa lapar lagi tiap satu hingga dua jam usai makan. Kondisi ini sangat tidak disarankan untuk naik gunung. Berbeda jika membawa gula aren dan kelapa yang berguna untuk stamina. Serta singkong sebagai makanan karbohidrat pengganti nasi. 


"Jadi singkong, gula aren dan kelapa itu dipadu jadi satu, dikukus, jadi makanan Ndas Borok untuk bekal naik gunung," tutur Pak Itok.
Cara membuatnya, dijelaskan Pak Itok, singkong dan kelapa diparut atau diselep, dicampur rata, ditaburi gula aren yang telah disisir tipis, diberi alas daun pisang lalu dikukus selama 20-30 menit. Kemudian ditempatkan dalam wadah yang terbuat dari anyaman bambu berbentuk bulat. Dipilih bentuk bulat karena melambangkan ndas atau kepala.


"Setelah disajikan kerap ada kata-kata 'Kok koyo Ndas Borok (seperti kepala berpenyakitan)', sehingga diberi nama Ndas Borok," terangnya.


Dibantu isteri dan seorang anaknya, Pak Itok mulai proses produksi Ndas Borok pada pukul 03.00 WIB dini hari. Namun sebelumnya ia mencabut singkong dan memetik kelapa dari kebun, siangnya sekitar pukul 14.00 WIB.
Ia belajar membuat Ndas Borok secara autodidak. Semula makanan itu hanya dipasarkan di lingkungan Desa Pendowo diantara tetangga-tetangganya. Kemudian ia menjualnya di Pasar Tani KTNA (Kontak Tani Nelayan Andalan) di daerah Kranggan, dan di Pasar Tani Pekarangan (Pastakaran). Belakangan Pak Itok mencoba mempromosikan Ndas Borok lewat media sosial. 

Ndas Borok buatan Pak Itok memiliki bentuk bulat berdiameter 20 sentimeter dengan ketebalan satu sentimeter. Satu porsi bisa dibagi menjadi delapan potong, cukup untuk empat orang. Setiap harinya ia membuat rata-rata 20-30 porsi. Makanan ini bisa tahan 3x24 jam jika telah dikukus minimal 20-30 menit tanpa diawetkan. 


"Hanya saja akan berubah rasa sedikit asam. Kalau dikukus lagi rasa asam hilang," katanya. 
Dijelaskan, tiap satu kilogram singkong dengan satu kelapa bisa jadi tiga porsi Ndas Borok. Satu porsi membutuhkan taburan gula arean sebanyak satu ons. Tiap satu porsi Ndas Borok memiliki berat 3-4 ons. Ndas Borok dijual seharga Rp 10 ribu per porsi. Namun jika dibeli dari reseller harganya menjadi Rp 13-15 ribu per porsi. Pak Itok memiliki tiga agen reseller Ndas Borok.


Pesanan Ndas Borok juga datang dari Semarang, Bandung, dan Yogyakarta. Meskipun ada pengiriman makanan yang bisa sehari sampai, namun karena ini tergolong makanan basah yang tidak tahan sampai terlalu lama, juga lebih berat diongkos pengiriman, maka ia tidak mengutamakan pengiriman ke luar kota.


Selain Ndas Borok, ia juga menjual olahan makanan dari singkong, seperti endog gludug, lentho, thoklo atau gendolo. Hampir semua makanan buatannya punya karakter dan cita rasa gurih manis.


"Saya ingin mempopulerkan makanan tradisional yang lebih sehat alami tanpa bahan kimia. Ingin ajak generasi muda suka makanan tradisional," pungkas Pak Itok. (Red

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.