Header Ads


Eduwisata Sindoro Waterpark, Usaha Berdayakan Lahan Kurang Produktif

Sumber Foto : IG @sindorowaterpark_swp

TEMANGGUNG,(JB) - Desa Rejosari, Kecamatan Bansari, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah memanfaatkan dana desa untuk membangun kawasan eduwisata Sindoro Waterpark pada lahan seluas 5550 meter persegi di kaki Gunung Sindoro dengan ketinggian 1050 meter dari permukaan laut (mdpl).

Kepala Desa Rejosari, Teguh Rahayu, menyampaikan bahwa pembangunan kawasan eduwisata diperkirakan menelan dana sekitar Rp 5,8 miliar, sehingga harus dilakukan secara multi years dalam 3-4 tahun. Dimulai dari Tahun 2018 lalu senilai Rp 500 juta untuk membangan waterpark untuk anak-anak. 

"Pembangunan waterpark mulai Agustus 2018, dan resmi beroperasi mulai April 2019 lalu. Hingga saat ini omzet dari waterpark sudah mencapai rata-rata Rp 15 juta per bulan,"tutur Teguh, Selasa (11/8). 

Dari operasional waterpark sudah menyerap tenaga kerja dari warga sekitar sebanyak 26 orang. Jumlah pengunjung ke kawasan wisata baru ini rata-rata mencapai 900-1000 orang per bulan. Saat ini waterpark juga dilengkapi Flying fox dengan tarif Rp 10 ribu per orang. Sedangkan tarif untuk berenang mencapai Rp 7000 per orang. Penghasilan lainnya dari tarif parkir sepeda motor Rp 2000 per unit dan parkir mobil Rp 5000 per unit.

"Semula ini tanah kas desa yang kurang profuktif, tidak begitu subur. Hanya menghasilkan Rp 6juta per tahun dari pembayaran sewa lahan. Kami juga memanfaatkan sumber air dari mata air Sedandang yang sangat bagus di Gunung Sindoro untuk mengairi waterpark," katanya.

Pengelolaan waterpark dilakukan oleh BUMDes Rejosari. Sedangkan untuk Dana Desa Tahun 2019 juga dialokasikan untuk membangun area snorkling Rp 300 juta dan Rp 100 juta untuk mendirikan pendopo sebagai sarana berkumpul warga. Total dana desa yang didapat Rejosari pada 2018 senilai lebih dari Rp 600 juta dan tahun 2019 ini senilai sekitar Rp 700 juta.

Wahini (43) warga Desa Rejosari, mengaku ekonominya terbantu setelah ada Sindoro Waterpark. Ia menerima hasil dari warung di kawasan waterpark rata-rata Rp 200 ribu per hari. Ia menjual sayuran, gorengan, kopi, dan makanan tradisional. 

"Semula tanam tembakau, tapi sudah berhenti tiga tahun ini. Lalu sempat ternak kambing. Sekarang saya hanya mengurus warung saja,"katanya.(Red)



Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.