Header Ads


“Sirnaning Memala” Persembahan Diskominfo untuk 195 Tahun Wonosobo


WONOSOBO,(JB) – Dusun Ledhok, Desa Plobangan di Negeri Saba geger, setelah sejumlah warga diketahui sakit mendadak. Bahkan sebagian dari mereka tiba-tiba meninggal dunia.
Warga dusun yang sebelumnya tenang, nyaman, gemah ripah loh jinawi, mendadak dicekam rasa takut, panik, cemas dan sedih bercampur aduk dalam benaknya. Mereka diminta untuk tidak keluar rumah, dan beraktivitas, baik bertani maupun berdagang. Sehingga banyak yang mendadak jatuh miskin, bahkan sekadar memenuhi kebutuhan makan setiap harinya pun, kesulitan.
Beruntung, di tengah kondisi yang kian memprihatinkan itu, Ki Jogoboyo, sesepuh sekaligus penanggung jawab ketenteraman desa segera menemukan asal muasal penyebab munculnya pageblug tersebut.
“Semua berawal dari kealpaan kita sendiri, yang selama beberapa warsa terakhir tidak menggelar Merti Desa sebagai bentuk puji dan rasa syukur atas panen warga desa yang melimpah,” tutur Ki Jogoboyo dalam gelar pisowanan bersama para pemangku dusun.
Atas inisiatif Ki Jogoboyo pula, kisruh yang menimpa Dusun Ledhok kemudian diurai, dengan kembali menggelar Merti Desa, yang juga diiringi dengan doa bersama dan tarian Lengger sebagai wujud dari masih adanya rasa syukur segenap warga. Pada akhirnya memala (_pagebluk_) sirna, Dusun Ledhok kembali makmur, warga sehat, tenang bekerja, dan panen pun melimpah ruah.
Sekelumit cerita di atas, merupakan bagian dari adegan-adegan dalam drama teatrikal yang diperankan seluruh pegawai Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Wonosobo, sebagai persembahan dalam memperingati Hari Jadi ke-195 Kabupaten Wonosobo, yang jatuh pada Jumat (24/7/2020). Direncanakan, drama sepanjang hampir 30 menit itu akan ditayangkan di kanal YouTube Pemkab Wonosobo.
Kepala Dinas Kominfo Kabupaten Wonosobo, Eko Suryantoro ketika ditemui di sela pengambilan gambar, Kamis (23/7/2020) menyebut, inisiatif untuk mempersembahkan drama tradisional, tidak lepas dari keinginan jajaran pegawai untuk _mangayubagyo_ atau turut berbahagia dan mendoakan Kabupaten Wonosobo, agar di usia ke 195, semakin kuat, tangguh, maju, sejahtera dan mandiri, meski saat ini pun tidak luput dari keprihatinan akibat Pandemi Covid-19.
“Kami dengan dibantu para seniman di Forum Komunikasi Media Tradisional (FK Metra), menggagas drama ini hanya dalam waktu seminggu terakhir, sekaligus merancang skenario hingga pengambilan gambarnya,” terang Eko.
Dia menjelaskan, proses pengambilan gambar yang dilakukan secara gotong royong oleh seluruh pegawai, akhirnya dapat diselesaikan dalam waktu dua hari. Karena semua dikerjakan setelah jam kerja, atau mulainpukul 16.00 WIB.
“Semoga drama tersebut mampu menjadi hiburan warga, yang masih satu rangkaian dengan peringatan Hari Jadi ke-195 Kabupaten Wonosobo, serta saat ini masih dalam suasana pandemi Covid-19. Meskipun pemkab tidak menggelar secara meriah, sebagaimana lazimnya tahun-tahun sebelumnya, yang selalu melibatkan warga masyarakat,” terang Eko.
Dalang, atau sutradara drama, Bambang Sutejo menerangkan, gagasan mengangkat cerita Memala di Dusun Ledok, Plobangan, karena menurutnya, memala atau pagebluk menjadi gambaran dari munculnya wabah Covid-19 yang telah memukul setiap sendi kehidupan masyarakat Wonosobo. Sedangkan dipilihnya Desa Plobangan, agar masyarakat paham dengan sejarah berdirinya Kabupaten Wonosobo yang  berawal dari dusun itu, 195 tahun silam.
“Ini drama yang menggambarkan kehidupan di tengah suasana pagebluk atau pandemi wabah, yang juga sarat dengan cerita sejarah awal berdirinya kabupaten Wonosobo,” tutur Bambang.
Dia mengaku, para pemeran setiap karakter dari pegawai, memberikan tantangan tersendiri, karena semua memang belum pernah bermain drama tradisional. Dengan gotong royong, saling dukung dan komitmen bersama untuk Wonosobo, hal itu tidak menjadi kendala berarti.
“Semoga dapat menjadi tontonan sekaligus tuntunan yang menghibur dan mengedukasi, serta membuka wawasan tentang kesejarahan kabupaten kita tercinta ini,” pungkasnya.(Red)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.