Header Ads


Kakanwil Kemenag DIY Berharap Pondok Pesantren Menjadi Teladan Penerapan Protokol Kesehatan

WONOSARI, (JB) - Untuk melihat lebih dekat persiapan pembelajaran pada pondok pesantren di masa pandemi Covid-19, Kepala Kanwil Kemenag DIY, Edhi Gunawan, mengunjungi Pondok Pesantren Terpadu (PPT) Al Mumtaz dan Pondok Pesantren Darul Quran Wal Irsyad di Gunungkidul, Jumat (3/7/2020). 

Hadir mendampingi Kakanwil, Kabag TU Wahib Jamil, Kabid Pendidikan Agama dan Keagamaan Islam Buchori Muslim beserta jajarannya, Kepala Kankemenag Gunungkidul Arief Gunadi dan Kasi PD Pontren Muh Yusuf.

Pengasuh PPT Al Mumtaz, KH. Mohamad Khoeron Marzuki menyampaikan bahwa PPT Al Mumtaz sudah memiliki tim satgas Covid-19 dan sudah menyiapkan SOP alur kedatangan santri. Turut hadir dalam kesempatan ini Ketua Forum Komunikasi Pondok Pesantren DIY KH. Fairuzi Afik Dalhar.

Kepala Kanwil Kemenag DIY Edhi Gunawan berharap pondok pesantren dapat menerapkan protokol kesehatan di pondok pesantren. "Harapannya lembaga-lembaga pendidikan seperti pondok pesantren dapat memberi contoh yang baik atau teladan terkait penerapan protokol kesehatan di masa Covid-19," ungkapnya.

Edhi mengatakan ada tiga hal yang perlu disiapkan pondok dalam menghadapi new normal, yaitu membentuk satgas Covid-19 yang akan bertanggung jawab terhadap penerapan protokol kesehatan di pondok pesantren, penyiapan sarana prasarana, dan adanya SOP atau aturan-aturan yang harus ditaati dalam setiap kegiatan seperti SOP saat pembelajaran hingga SOP yang mengatur saat orang tua santri berkunjung. "Dengan adanya SOP, satgas lebih mudah memantau pelaksanaannya," terangnya seraya mengatakan Kemenag siap melakukan pendampingan di lembaga pendidikan seperti pondok pesantren.

Jangan Jadi Klaster Baru

Pengasuh Pondok Pesantren Darul Quran Wal Irsyad KH. A. Kharis Masduqi menuturkan pondok pesantren yang diasuhnya sudah memiliki tim gugus tugas Covid-19. “Pondok Pesantren Darul Quran Wal Irsyad sudah menyiapkan protokol pencegahan dan pengendalian Covid-19. Alur kedatangan santri, persiapan asrama, karantina dan kegiatan selama di pondok juga sudah disiapkan. Santri akan kami rapid test saat tiba di pondok,” katanya.

Ditambahkan, nantinya kegiatan selama di pondok dilakukan sesuai protokol kesehatan. Santri belanja tidak lagi menggunakan uang tunai karena pondok sudah bekerjasama dengan BRI untuk menggunakan BRIZZI, kebutuhan santri dan laundry juga sudah disiapkan pondok. "Ini kami lakukan agar santri tidak keluar pondok. Kami berharap upaya kami ini direstui dan dibimbing agar lancar, jangan sampai pondok pesantren menjadi klaster baru virus ini," tuturnya.

Sementara itu, Kepala Kankemenag Gunungkidul Arief Gunadi mengatakan kunjungan Kakanwil beserta jajarannya ini merupakan bukti begitu perhatiannya negara terhadap pondok pesantren. Arief berharap kunjungan ini dapat memberi pemahaman kepada pondok pesantren akan bahayanya Covid-19, sehingga protokol kesehatan harus dapat diterapkan dalam rangka memberikan pelayanan kepada peserta didiknya, baik santri maupun siswa yang sekolah di lembaga formal di lingkungan pesantren. 

“Hal-hal yang harus diperhatikan, tentu harus dicermati oleh pengasuh pondok pesantren, dewan asatidz serta  pengelola lainnya agar semuanya dapat menjadi antisipasi preventif terpaparnya santri pondok pesantren dari Covid-19. Untuk memberikan ketenangan kepada wali santri yang ada di rumah sekaligus kenyamanan belajar bagi peserta didik di pondok pesantren, maka seberat apapun kesiapan protokol kesehatan Covid-19 ini harus disiapkan oleh pondok pesantren,” tandasnya.

Dikatakan, bila pondok pesantren belum mampu untuk menyiapkan infrastruktur sebagaimana ditegaskan dalam protokol Covid-19, maka lebih baik untuk tidak memaksakan diri melakukan proses pembelajaran.  

“Oleh karena itu, mudah-mudahan semuanya dapat dipahami dan selanjutnya untuk tim gugus tugas Covid-19 Kabupaten Gunungkidul, mohon dapat memfasilitasi kiranya pondok pesantren yang sudah membuka kembali kegiatan pembelajaran mendapatkan pendampingan, pengawalan dan pengawasan. Syukur dapat dibantu dari sisi biaya, setidaknya untuk  rapid test yang selama ini menjadi persoalan di pondok pesantren,” pungkas Arief. (and)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.