BANYUMAS,(JB) – Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas bekerja sama dengan Program Pengembangan Inovasi untuk Pembelajaran (PINTAR) Tanoto Foundation mulai Selasa (11/2) mengadakan pelatihan bagi guru, kepala sekolah serta pengawas SD dan MI se-Kecamatan Purwokerto Selatan dan Patikraja di Hotel Meotel, Purwokerto. Pelatihan digelar untuk mengembangkan kreativitas dengan menggunakan unsur-unsur pembelajaran aktif yang disingkat MIKIR.

Nurkolis, Koordinator Program PINTAR Tanoto Foundation Jawa Tengah menjelaskan bahwa MIKIR merupakan akronim dari Mengalami dan mengamati, Interaksi, Komunikasi dan Refleksi. Saat ‘mengalami dan mengamati’ banyak indera yang digunakan sehingga pemahaman mengenai suatu konsep menjadi lebih mantap. Saat berinteraksi, siswa didorong untuk mengungkapkan gagasan. 

“Dengan berkomunikasi, memotivasi siswa untuk berani dan lancar dalam menyampaikan gagasan. Sedangkan saat refleksi memunculkan sikap mau menerima kritik dan memperbaiki diri,” papar Nur.

Pembelajaran bertujuan untuk mengembangkan potensi siswa. Dan kreativitas merupakan potensi yang sangat penting dalam kehidupan siswa. 

“Pendekatan Belajar Aktif telah lama dikenal di Indonesia dan dianggap mampu meningkatkan kreativitas. Namun penerapan di sekolah masih harus ditingkatkan. Guna mengembangkan potensi siswa, guru juga perlu memiliki pemahaman tentang pendekatan tersebut” ungkap Nurkolis.

Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas, Takdir Widagdo menjelaskan bahwa pelatihan yang dilakukan selama 2 (dua) hari tersebut baru dilaksanakan di dua kecamatan sebagai piloting, namun hal ini akan menjadi contoh untuk dikembangkan ke sekolah lain.

“Pelatihan ini harus diikuti secara serius. Bapak Ibu lah yang akan menjadi aktor penggerak praktik seperti ini. Gunakan kesempatan yang telah diberikan Tanoto Foundation sebaik-baiknya” harap Takdir.


Dosen Universitas Negeri Semarang yang juga Fasilitator PINTAR Tanoto Foundation, Muh. Sholeh mengungkapkan bahwa dengan pola MIKIR akan mendorong guru dan siswa untuk bertanya, mengamati, mencoba, mengasosiasi, serta melaporkan. Dengan kata lain, Guru diasah kemampuannya untuk menciptakan berbagai kegiatan kreatif dan inovatif, sementara peserta didik diajak untuk belajar bekerja dalam tim dan lebih kritis.


“Dari sisi guru, dia akan berfikir kreatif saat mengidentifikasi permasalahan, khususnya untuk unsur Mengalami, mengarahkan pikiran pada kemampuan apa yang akan dikembangkan” jelas Muh. Sholeh. Dirinya menambahkan bahwa MIKIR merupakan jawaban dari tantangan abad 21 yaitu kemampuan memecahkan masalah secara kreatif, dan hidup bersama dalam harmoni.